Halo Readers, hari ini aku ingin berbagi sesuatu yang sangat personal. Tepat di malam ke-40 berpulangnya almarhum Bapak, aku mendapatkan sebuah 'hadiah' lewat mimpi. Bagiku, ini bukan sekadar bunga tidur biasa, tapi sebuah pesan yang sangat berarti. Aku share cerita sedikit ya...
Udara terasa dingin, bukan karena malam, tapi karena sebuah kekosongan yang membeku. Itu adalah Malam ke-40 kepergian Bapak, dan anehnya, malam itu juga bertepatan dengan weton kelahiranku. Sebuah siklus, sebuah perpisahan dan permulaan yang bertemu dalam satu titik sunyi.
Dalam tidurku yang paling dalam, Bapak datang. Ia tak mengucapkan sepatah kata pun, hanya tatapan lembut yang penuh arti, dan sebuah isyarat: ikutlah.
Perjalanan itu dimulai. Kami melintasi batas-batas yang tak kukenal, hingga mataku disuguhi pemandangan yang mencekam sekaligus agung. Perbukitan yang sangat tinggi, menjulang seperti punggung raksasa yang tertidur, diselimuti kabut putih yang tebal seolah menyembunyikan rahasia dari dunia fana.
Di sana, di lekukan bukit yang hening, berdiri sebuah pemakaman Islam yang tenang, dan di atasnya sebuah masjid tunggal yang memancarkan cahaya redup. Semua terasa damai, sakral, dan sunyi.
Bapak membawaku lebih jauh, menuju sebuah Bangunan Putih tanpa dinding tapi banyak tiang yang mempesona. Cahaya di sana lembut, namun keramaian di dalamnya terasa luar biasa. Mereka adalah para penghuni keheningan,banyak orang, semuanya berpakaian serba putih, berjalan tegap, berlalu-lalang dalam diam yang sempurna. Tidak ada yang berbicara, tidak ada wajah tua, hanya langkah-langkah ritmis dari pria dan wanita yang wajahnya tak bisa kulihat jelas, seolah mereka adalah kabut itu sendiri.
Bapak melepaskanku di ambang pintu bangunan itu, dan ia pergi tanpa kata. Aku berdiri sendiri di tengah keramaian tanpa suara, hatiku bergetar dalam keheningan yang tak pernah kutemui. Aku tak berani bertanya, hanya melihat sekeliling, merasakan atmosfer sakral yang melingkupiku.
Setelah beberapa saat yang terasa seperti keabadian, Bapak datang kembali. Waktu untuk pulang.
Perjalanan kembali terasa lebih cepat. Kami sampai di rumah. Rumah yang sama, namun terasa berbeda, dipenuhi aura pertemuan yang baru. Bapak kemudian melakukan hal yang paling kubutuhkan: ia memasak makanan dan memberikannya kepadaku.
Air mataku tumpah ruah,
Kemudian, Bapak mendekat. Dalam keheningan itu, ia memberikan sesuatu yang tak ternilai—sebuah benda atau mungkin sebuah pesan yang hanya bisa kita berdua pahami, sebuah warisan batin.
Dan untuk pertama kalinya dalam mimpiku, setelah perjalanan agung itu, Bapak berbicara.
Kata-katanya bukan hanya suara, tapi sebuah getaran jiwa. Itu adalah pesan terakhir, wejangan, atau restu.
itu adalah janji, bimbingan, dan kunci untuk melanjutkan hidupku tanpa dirinya. Pesan itu kini tersimpan rapat di lubuk hatiku, sebuah warisan yang lebih berharga dari segalanya.